Mimpi Bertemu Nabi Sulaiman


Dijaman modern semua orang bisa belajar dengan mudah.  Bertanya guru, dosen, baca buku, cari referensi di internet ataupun sumber lainnya. Namun hanya-lah ada satu tempat belajar yang paling baik yaitu pengalaman hidup kita masing-masing. Ada banyak orang yang sarat pengalamannya tapi tak kunjung belajar. Ada pula yang pendek pengalamannya tapi mencerahkan sepanjang hidupnya.Pengalaman itu laksana peta kehidupan. Membuat kita tahu arah dan jalan yang hendak kita lalui  agar  sampai tujuan. Usia kita memang tidak cukup panjang untuk mengalami semua kejadian di dunia, karena itulah jadikan pula pengalaman orang lain sebagai pembelajaran.

Semua orang pasti punya pengalaman. beberapa ada yang memberi inspirasi banyak orang. Aku selalu ingat pesen Bapak Rektor Unissula Prof. Laode Kamaluddin. Ketika itu aku masih duduk disemester awal. Bersama dengan kedua teman lainnya kami ditugaskan mewakili BEM FK dialog bersama Bapak Rektor. Ada satu pernyataan beliau yang terus aku ingat. Beliau bertanya pada kami semua yang hadir pada saat itu

“Ilmu itu paling banyak ada dimana?”

Ada yang jawab di buku, di guru atau dosen, sementara aku menjawab di perpustakaan. Akan tetapi semua jawaban ternyata salah.

Beliau melanjutkan

“ilmu itu paling banyak ada di kuburan, karena betapa banyak ilmu orang tua kita yang belum sempat kita pelajari sudah meninggal duluan”.

Maka melalui tulisan singkat ini aku ingin sharing pengalaman kepada kawan semua. Walau bukan pengalamanku, setidak-tidaknya aku ingin agar mutiara berharga ini tidak jatuh ke dalam liang kubur bersama jasadku. Karena tidak ada jaminan aku masih akan hidup untuk satu dua jam ke depan. Semoga bermanfaat!

Pengalaman ini dialami seseorang. Meski dia tak sehebat manusia-manusia yang namanya menyejarah. Namun aku tetap menyejajarkan dirinya dengan para pahlawan. Sebab Dia telah mengubah hidupku dan masa depanku. Dialah pahlawanku; ayahku!

Ayah adalah orang yang sangat keras. Karakternya keras namun tenang. Orangya dingin namun penuh kasih sayang. Dia keras terhadap diri sendiri kadang juga orang lain. Siapakah orang lain itu? Bisa anak buahnya yang tidak disiplin bekerja, bisa jadi aku. Namun lebih sering terhadapku. Beliau keras dalam hal mendidikku.

Sudahlah tidak usah aku ceritakan bagian yang ini.

***

Kisah ini terjadi pada tahun 2007 lalu. Ketika itu aku masih duduk dibangku kelas 2 SMA. Di masa -masa SMA aku masih ingat betapa diriku pada saat itu tak pernah belajar sama sekali. Aku juga sering bolos sekolah. Mungkin aku penat kali ya?

Namun lucunya setiap kali aku bolos sekolah ibu tidak pernah marah. Justru ibu yang membuatkan surat ijin. Entah ijin urusan keluarga pergi kemana gitu, atau saudara menikah, adik khitanan padahal adikku semua perempuan, hehe. Tapi Ibu tidak pernah membuatkanku surat ijin sakit. Entah kenapa jika aku pura-pura sakit yang terjadi malah sakit beneran. itu nyata terjadi pada diriku. Pernah juga sampai 3 hari aku sakit cuma gara-gara aku minta dibuatkan surat ijin sakit agar bisa bolos sekolah. Akhirnya aku tidak berani lagi. Lebih baik jujur mengutarakan maksud ke Ibu. Ibu pasti paham. Ibu adalah orang yang paling mengerti aku.

Aku sangat mencintai mu buk…..”

Dulu Aku sering dibuatkan surat ijin alias boleh bolos sekolah asalkan aku tidak pergi keluyuran. Aku harus tetap di rumah dan ngepel lantai rumah sampai bersih, begitu pinta ibu. Aku tepati dan aku pun melakukannya. Setiap aku bolos aku selalu di rumah dan selalu ngepel rumah.

Pernah dulu pada saat aku masih SD lebih tepatnya kelas 4 SD, aku pernah hampir mati gara-gara bohong sama ibu. Menyeramkan kawan!

Kejadinnya kurang lebih seperti ini. Pada saat itu adalah musimnya ikan hias. Hari itu aku minta ijin ke ibu mau membeli ikan hias.

“Dimana? Sama siapa” tanya Ibu.

“ di deket buk, di ngurensiti. Sama temanku” jawabku.

Ngurensiti adalah desa sebelah. Sedangkan desaku bernama ngurenrejo. paling jaraknya bisa ditempuh 15 menitan kalau naik sepeda.

“jangan pergi jauh-jauh ya. jangan sampai jalan raya ya, banyak kendaraan”. Ibu berpesan kepadaku.

Akupun berangkat naik sepeda berboncengan dengan kawan kecilku. Tapi saat itu aku tidak mengindahkan pesan ibu. Aku malah pergi ke kecamatan trangkil melawati jalan raya. Trangkil itu kecamatan lain. sedangkan desaku masuk dalam kecamatan wedarijaksa.

Pada saat pulang, ban roda sepeda depanku terperosok ke lubang disebelah kiri jalan hingga Aku terjatuh dan terpental berguling-guling ke tangah jalan raya. Sedangkan kawanku jatuh ke pinggir jalan. Dibelakangku ada bus menyambar dengan kecepatan tinggi.

Kakiku kiriku membentur bus. Entah aku yang membentur bus ataukah bus yang membentur aku.   yang  jelas bus-nya pada saat itu tidak berhenti. Aku berguling-guling kesakitan. Sementara orang-orang pengendara sepeda motor cuma melihatku saja. Mereka tidak berhenti untuk menolongku. Sampai akhirnya ada dua orang pemuda yang iba terhadapku. sampai sekarang aku tidak ingat siapa nama mereka. mereka mengantarku pulang naik dengan motor mereka. sedangkan kawanku membawa sepedaku pulang.Aku ingat di bus tersebut ada bekas darahku. Sakit sekali rasanya kawan. Sampai aku tidak bisa nangis lagi. Begitu sampai rumah dua orang pemuda yang mengantarku bilang kalau aku kecelakaan diserempet bus, Ibuku langsung pingsan. Ayah marah-marah kepadaku. Sudah sakit malah dimarah-marahi, hehehe. . .

ya allah durhaka sekali aku waktu kecil dulu :(

Bayangkan kawan bagaimana jadinya kalau kepalaku yang terbentur bus mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. aku mungkin sudah mati. Inilah hasil perbuatanku kalau aku membohongi Ibuku. Entah kenapa apa yang Ibu ucapkan selalu jadi kenyataan dalam hidupku. Dan Itu benar-benar nyata. Makanya ketika Ibu membolehkanku bolos sekolah asalkan tetap di rumah, aku mentaatinya. Aku takut melawan perintahnya. sampai sekarang, ya, sampai detik ini aku masih trauma kalau naik sepeda ontel di jalan raya yang aku dulu pernah kecelakaan.

***

Namun hari itu nampaknya sial bagiku. Ketika aku bolos sekolah ketahuan ayah. ayah ada kerja lapangan. Beliau mampir sebentar ke rumah sebelum kembali ke kantor.

Celakalah diriku ini. Pasti dimarah-marahi.

“loh kok di rumah? Ga sekolah apa?” ayah bertanya padaku.

Aku diam.

“Kamu bolos ya?”

Aku diam dan menunduk.

Aku mengira ayah marah. Akan tetapi yang tejadi justeru sebaliknya. Ayah hanya menceramahi aku dari jam 10.00 sampai jam 12.00. Sementara aku hanya diam mendengarkan. ceramahnya 2 jam oleh bukan ustad tapi isinya dahsyat melebihi ustad manapun. Soalnya ayah menasehatiku dengan ucapan yang beliau sendiri pernah mengalami dan melakukannya.

Itulah hari dimana aku benar-benar menaruh hormat kepada ayahku.Mulai hari itu aku berjanji akan menuruti apa saja perintah ayahku terhadapku. Itulah titik balik dalam hidupku. aku juga berjanji akan rajin belajar dan tidak akan bolos sekolah lagi.

Aku mencintaimu Ayah seperti aku mencintai Ibu.

Kurang lebih kejadiannya seperti ini.

Ayah melanjutkan bicaranya

“ri ( dirumah aku dipanggil ari). Hidupmu itu enak. Enak sekali. Tugasmu hanya belajar. Ayah tidak meminta lebih. Apa ayah minta kamu bekerja? tidak kan. ayah cuma minta kamu belajar. itu saja.  Kamu sekolah yang baik. jangan nakal. Tapi cuma diminta belajar saja masih aras-arasen. Ayah dulu waktu sekolah kok tidak pernah yang namanya bolos. ayah selalu bersemangat.

Hidupmu Tidak seperti kehidupan ayah dulu ri. Waktu ayah masih usia remaja dulu Ayah sekolah juga nyambi bekerja. Ayah merasa ayah inilah orang paling miskin di dunia ini. ayah merasa ayah inilah orang paling menderita sedunia.

Setelah ditinggal mati kakekmu, kehidupan ayah begitu berat. Ayah anak pertama, punya 5 adik yang masih kecil-kecil. Ayah-lah yang menyekolahkan mereka semua.

 Saat itu ayah masih STM (sekarang SMK setingkat SMA). Pagi harinya ayah bekerja sebagai kuli sawah. Siang harinya ayah berangkat sekolah di sekolahan yang jaraknya lebih kurang 17 km dari rumah. Ayah tempuh dengan naik sepeda ontel. Sore harinya sampai malam hari ayah kembali lagi  bekerja jadi kuli sawah. Tapi ayah tetep semangat belajar. Ayah tidak pernah bolos sekolah. Ayah tidak pernah malas! tidak seperti kamu, ri !

Kehidupan ayah setiap hari seperti itu. Sekolah dan kerja. bandingkan dengan hidupmu sekarang, lebih enak mana?

ketika kakekmu meninggal dunia ayah ditinggali hutang sebesar 1 juta. Kakekmu berwasiat kepada ayah untuk melunasi hutang-hutangnya. Hanya kepada ayah kakekmu berepesan.  Dalam wasiat itu kakekmu minta jangan sampai rumah yang kita tempati sekarang ini dijual. Entah kenapa kakekmu waktu itu hanya berpesan kepada ayah. Mungkin hanya ayah yang sanggup melaksanakan amanahnya.

Kalau ayah tidak membayar hutang kakekmu tepat waktu hutangnya akan beranak dan terus beranak. Apa cukup penghasilan ayah untuk melunasinya, sedangkan ayah harus biayai sekolah sendiri juga untuk menyekolahkan adik-adik ayah dan juga untuk biaya kehidupan sehari-hari. Sementara nenekmu waktu itu hanya jual daun pisang dan hasilnya pun tidak cukup untuk makan.

Kamu sekarang bisa makan enak ri. bisa tidur enak di kasur.

Tau apa makanan ayah dulu?

Kami sering makan nasi aking (nasi karak, yaitu nasi yang dikeringkan). Itupun nasi aking yang ngasih orang. Bisa makan nasi jagung saja sudah alhamdulillah. Tapi pada saat itu ayah punya prinsip Ayah tidak akan pernah mengemis. Jangan ada adik-adik ayah dan keluarga ini yang mengemis! kalau tidak percaya cerita ayah sekarang tanya nenekmu!

Pada saat itu ayah merasa tak punya siapa-siapa lagi. Keluarga-keluarga kakekmu tidak menganggap ayah sebagai bagian dari keluarga mereka. Mereka semua menjauh. Tidak ada satupun yang mengulurkan bantuan. Karena ayah ini orang miskin. Karena kami ini orang miskin.

Ayah pada saat itu berjanji pada diri ayah sendiri, sebelum hutang kakekmu terlunasi ayah tidak akan menikah.

(benar memang kata Ibu, ayah menikah umur 27 atau 28 pada saat hutang2 sudah dilunasi)

Ayah minta pertolongan kepada siapa lagi selain kepada Allah? Hanya Allah yang bisa ayah mintai pertolongan.

ketika lulus sekolah ayah mendaftarkan diri sebagai PNS. Tetangga-tetangga disini banyak yang menghina ayah. Ada yang bilang, kalau ayah diterima jadi PNS dia akan sunat dua kali karena ayah tidak punya kenalan siapapun dan tidak membayar sepeserpun. Perih sekali rasanya hati ini. mereka setiap hari mencerca ayah. Tapi ayah mencoba untuk tetap tersenyum. Ayah tidak menghiraukan mereka. Yang penting ayah bekerja dan berusaha dan berdoa!

Alhamdulillah takdir Allah. Allah menjawab doa ayah. pada saat itu ayah diterima jadi PNS.

Akan tetapi gaji ayah sebagai PNS hanya 30 ribu per bulan. Uang 30 ribu itu ayah gunakan untuk biaya sekolah adik-adik ayah, untuk biaya hidup sehari-hari, untuk makan dan untuk melunasi hutang kakekmu 1 juta rupiah yang terus beranak.

Berat sekali rasanya hidup ayah dahulu. Hampir hampir saja rumah ini terjual karena ayah merasa tidak kuat lagi.

yang bisa ayah lakukan hanya minta pertolongan kepada Allah. hanya allah satu-satunya yang bisa mintai pertolongan.

Pada saat itu ayah mendekatkan diri kepada Allah dengan sholat hajat 3 hari berturut-turut kemudian tahajud 3 hari berturut. Itu ayah lakukan rutin tanpa bolong sampai 2 tahun lamanya.

Ayah sholat juga tidak di dalam rumah. Ayah ambil wudlu di sumur dan mendirikan sholat di buritan rumah yang gelap sekali. Rasa takut itu menguap dengan sendirinya. ayah lakukan supaya sholatnya bisa khusu’.

Tepat pada malam hari yang ke dua tahun itulah ada kejadian aneh yang ayah alami. Pada saat ayah ambil wudlu, ayah melihat disamping ayah ada seorang yang pake baju putih dan sorban putih. Tubuh ayah gemetaran. Ayah merasa ketakutan. Pada malam itu ayah tidak sholat di buritan tetapi sholat di dalam rumah. Tepatnya dikamar yang sekarang ayah tempati itu.

Setelah ayah selesai sholat dan menucapkan salam. Ayah menoleh ke kanan dan ke kiri orang itu muncul lagi. Orang berbaju putih dan sorban putih.

Orang itu bilang assalamualaikum kemudian menghilang. Ayah tambah gemetaran kemudian ayah langsung tidur.

Malam itu ayah bermimpi. Inilah mimpi petuntuk dari Allah. Mimpi ayah begini:

Dalam mimpi, ayah duduk sendirian di kursi ruang tamu. Ayah ke datangan tamu 2 orang memakai baju putih-putih dan bersorban putih. Yang satu orangnya tinggi besar. Yang satu orangnya kecil setinggi ayah. Orang yang tinggi besar itu langsung masuk ke kamar dan langsung sholat di kamar ayah tempat ayah sholat. Sedangkan orang yang kecil setinggi ayah itu duduk di depan ayah.

Ayah bertanya pada orang yang duduk di depan ayah

“ niku sing sholat sinten?” (yang sholat itu siapa?)

Orang di depan ayah menjawab “ Nabi Sulaiman”.

***

Ceritanya aku skip sampai disini ya kawan!

Begitulah kisah yang membuat hatiku menangis sejadi-jadinya. Setelah selesai bercerita yang kurang lebih 2 jam lamanya, dan aku hanya diam mendengarkan. Usai sholat dhuhur ayah langsung kembali ke kantor. Aku masuk kamar, dalam hati aku menangis. Aku merintih. Aku sampai menangis sungguhan.

Aku masih ingat perkataan ayah.

nabi sulaiman adalah nabi yang paling kaya di dunia ini. Tidak ada satu manusia pun yang sanggup menandingi kekayaan nabi sulaiman. Insya allah kelak kehidupan ayah akan makmur.  Tapi ayah tidak hanya leha-leha terus malas-malasan. Ayah juga masih kerja keras dan budidaya. Dan alhamdulillah hutang kakekmu sudah dapat terlunasi. Dan rumah ini tidak terjual.”

Mulai hari itupun aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan bolos sekolah lagi. Aku berjanji akan berbakti kepada ayah dan ibu serta menyayanginya secara seimbang.

ayah juga berpesan kepadaku

“hormatilah orang miskin jangan hina mereka karena menjadi orang miskin itu sakit sekali rasanya”

Belakangan ketika aku mau ujian nasional dulu, ternyata ayah selalu bangun sholat malam untuk mendoakanku. Hal yang tidak pernah ku ketahui sebelumnya. Dulu aku kenal ayah adalah orang yang gila kerja, tidak pernah perhatian, keras wataknya, perintahnya harus selalu di turuti. Tapi sekarang aku sangat hormat kepadanya. Beliau juga berprinsip bahwa kerja itu ibadah. Orang Islam tidak boleh malas.

Terimalah hormatku ayah. Aku berjanji akan menjadi manusia yang berguna bagi mayarakat, bangsa dan juga negara. Insya allah…….

“sebesar apa kasih sayang ayahmu terhadapmu, akan nyata terlihat kelak ketika kamu sudah menjadi ayah. Maka sayangilah ayah dan Ibumu secara seimbang”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita...

tekArtist

Warning: Widespread Weirdness

clotildajamcracker

The wacky stories of a crazy lady.

Caveat Automattor

you have been warned

Paolo Belcastro

Modern Nomad

The Typekit Blog

News about Typekit

Gary Takes Photos

Sometimes they're good.

Get 2 See

Follow along as we see the sights, eat the noms, and have the funs!

John James Jacoby

Bananas about BuddyPress and bbPress -- and Alliteration

Nick Momrik

Trying to get a hole-in-one

MacManX.com

Stuff from James Huff

Lens Cap

Casual glimpes into mundane suburbia

Learning by Shipping

products, development, management...

Matt Miklic

Surprisingly Well-Adjusted

alternatekev

bilateral illusions

Secantik Bunga Peradaban Ilmu

manfaat, , dari dunia sampai akhirat

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: