Pak Tua Dari Waringin


Matahari mulai pancarkan pesonanya di ufuk timur. Cahayanya  kuning keemasan lambat merayap di atap-atap rumah, gang, pepohonan, dedaunan, dan memantulkan sinarnya kemana saja, ke segala arah yang dalam sekejap  terusirlah gelap. Di jalanan desa orang-orang mulai berlalu-lalang. Mereka sibuk dengan diri masing-masing. Terdengar gemericing  bel sepeda bersahut-sahutan, tanda masyarakat desa memulai harinya.

Kampung ini, telah lama terasing dari kehidupan di sekitarnya. Akses jalan ke kota memang rusak  berat. Ditambah lagi jembatan kali gung, satu-satunya jalan penghubung  dengan desa sebelah terputus. Puluhan tahun lalu banjir bandang menerjang wilayah ini.  jembatan yang terbuat dari bambu yang diikat itu ikut terbawa arus. Sebenarnya masalah utama-nya bukan disitu.  Bukan pada akses jalan ke kota yang sulit. Pemerintah setempat telah mengulurkan bantuan untuk memperbaikinya. Namun masyarakat tegas menolaknya. Alasannya para pendahulu mereka berpesan kepada anak turunnya hingga sampai yang hidup sekarang ini untuk tidak ikut-ikutan gaya hidup orang kota. “jangan sampai terjangkiti penyakit kehidupan glamor perkotaan”. kata ketua suku di desa itu.

Membiarkan akses jalan rusak parah itulah cara mereka mendindingi anak-anaknya  supaya tidak kena dampak perilaku kehidupan modern. Orang-orang kota dalam pandangan mereka adalah sekelompok makhluk  hidup yang menyeramkan. Ego mereka tinggi, tidak  mau kenal tetangga, kehidupan mereka serba wah, moralitasnya sudah terkikis habis, pokoknya seluruhnya yang jelek-jelek melekat pada orang kota. Itulah yang mereka ketahui dari cerita para sesepuh.

Mengasingkan diri. Mungkin itulah alasan tepatnya! Mereka semua sepakat tidak ada satu rumah pun di desa itu ada Televisi di dalamnya.  Televisi itu merusak; begitulah keyakinan mereka mantap.  Lalu bagaimana mereka mengetahui  dinamika dunia luar? Dari siaran radio-lah mereka mendengar berita.

Kampung ini kampung yang miskin, namun tak satupun dari mereka merasa kekurangan. Masyarakat desa itu amat bahagia dengan kesederhanannya. Kampung yang terkungkung adat, biarlah yang terpenting semua selamat.

Angin sepoi-sepoi bertiup lembut membawa kesegaran bagi setiap makhluk hidup di dalamnya. Suaranya lirih laksana alunan musik khas surgawi. kampung damai; begitulah orang-orang menyebutnya.

***

Pagi itu, desa Waringin (nama asli kampung damai) riuh dengan berbagai aktivitas di dalamya. Anak-anak  berlari-lari  kecil kejar-kejaran dan bersorak-sorai ria. Mereka hanyut dalam canda dan tawa. Begitu cerahnya wajah anak-anak itu seperti cerahnya hari ini.Namun masa depan mereka tidak secerah anak-anak kota lainnya. Mereka menerima. yah anak-anak desa waringin hanya bisa menerima takdirnya dengan lapang dada telah ditentukan orang tua mereka. Kelak Mereka , anak-anak itu, akan meneruskan pekerjaan orang tua mereka sebagai petani. yah, hanya sebagai petani.Para orang tua cuma takut, kalau menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi di kota anak-anak desa waringin akan berubah perilakunya. Masyarakat kota yang telah di perbudak oleh uang, itu yang mereka khawatirkan! percuma anaknya pintar, kalau mereka menjadi berpaham materialisme. Sebuah ketakutan yang mendasar.

Sementara ayah-ayah mereka mulai berangkat ke sawah. Karena hampir sebagian besar penduduk desa waringin adalah petani. Telah bertahun-tahun lamanya secara turun temurun penduduk desa ini hidupnya bergantung pada hasil pertanian. Tidak pernah ketinggalan caping, cangkul dan sabit ; merupakan alat-alat yang selalu mereka bawa setiap kali hendak bertani. Sedangkan para wanitanya ada yang ikut kerja di sawah, ada juga yang masak di dapur.

Terlihat di beberapa atap rumah dapurnya mengepulkan asap, kadang juga terdengar suara “sreng” bunyi sesuatu dimasukkan ke dalam minyak mendidih.

Begitulah wajah sehari-hari desa waringin. Selalu gaduh dan tidak pernah sepi aktivitas.

 “Hari ini cerah sekali” celoteh seorang pemuda kurus dalam rombongan sepeda menuju ke sawah.

“iya, cerah. Udaranya juga seger. aku jadi semangat kerja” timpal pemuda rada gemuk yang tergopoh-gopoh mengayun sepeda disampingnya.

Rombongan itu terdiri dari para pemuda dan para orang tua yang sehari-harinya berkerja di sawah. Mereka  senantiasa menjaga warisan dari leluhur untuk hidup rukun. Karena itulah setiap harinya, mereka selalu pergi bersama-sama  saat hendak ke sawah.

Kelak anak-anak mereka yang akan menggantikannya. Kehidupan desa waringin hanya berputar-putar seperti ini dari tahun ke tahun. Tidak ada perubahan yang berarti. Petani. yah, hanya sebagai petani. Namun petani mulia yang teguh pada prinsip hidupnya.

mereka tidak terpesona akan “gebyaring jagad”. menjadi petani, adalah kebahagiaan. cukup menjadi petani asalkan hidupnya lurus lenceng galeng tidak terbelit persoalan.

Diantaranya ada yang menggarap ladangnya sendiri. Ada pula yang bekerja sebagai kuli.

Mereka semua berbaris rapi. Seperti prajurit perang yang siap ke medan laga. Irama ayunan sepeda pun hampir-hampir sama. Mereka menggenjot pedal dengan frekuensi sedang, tidak pelan tidak pula terlalu cepat. Sepertinya mereka sangat menikmati hari ini.Tidak ada satupun yang tidak memakai caping. di Pundak mereka digunakan sebagai tempat meletakkan cangkul. Sesekali terdengar canda tawa diantara mereka. Betapa akrabnya mereka satu sama lain.Di baris terdepan, dengan pakaian rada compang-camping dan tanpa memakai sendal, Seorang pak Tua juga tidak mau kalah semangatnya. Ia tidak merasa letih sedikitpun mengayuh sepeda  reot yang usianya hampir sama tua dengan dirinya.Padahal jarak sawah dengan rumah mereka terbilang agak jauh. Sesekali Pak tua itu melempar lelucon kemudian disambut gemuruh tawa yang lainnya.

Kakek Yon, itulah namanya. Ia hidup sendirian di rumah tanpa istri dan anaknya. Kabarbya mereka telah lama meninggal. Semua warga desa tahu kalau kakek Yon hidup sebatang kara. Namun Ia tidak pernah mau bergantung pada orang lain, apalagi sampai mengemis. Karena itu untuk menyambung hidupnya, Ia ikut bekerja sebagai kuli sawah.

Jangan salah meski usia telah senja namun semangatnya luar biasanya tidak kalah dari yang muda-muda.

***

Begitu sampai di sawah mereka mulai bekerja. Satu persatu dari mereka mulai mengayunkan cangkulnya ke tanah. Terik matahari membuat para petani itu deras kucurkan keringat. Begitu pula kakek yon. Pakaiannya telah basah oleh keringat.

Baru dua puluh ayunan pemuda rada gemuk di sebelah kakek yon telah ambruk; Ia istirahat sejenak. Nampaknya ia sangat kehausan. Bekal Air minumnya satu botol penuh diminumnya sendiri hingga tinggal setengahnya; ia mirp seperti gentong bocor yang diisi air.

Petani lainnya menertawakannya. Kakek yon juga ikut tertawa terpinkal-pingkal.

“ Hai anak muda, badanmu saja yang besar.  baru berapa ayunan kau sudah kwalahan. hahaha. Mana tenagamu ?” tantang Kakek yon.

“ aduh ka-ka kek, sebentar nih, mi mi nuum dulu” katanya dengan nafas tersengal-sengal.

“hahahaha” semua tertawa. Menertawainya.

Kemudian si gemuk memulai mencangkul lagi. Dan mereka semua meneruskan mencangkul.

Matahari semakin menjulang tinggi, kini tepat berada diatas kepada mereka. Sengatannya begitu terasa.

Sebentar lagi waktunya istirahat. Satu persatu dari mereka sudah berhenti mencangkul.

Mereka duduk di galeng, ada pula yang langsung rebahan di gubuk sawah. Mereka semua nampaknya kecapekan setelah berjam-jam mencangkul tanah.

Namun kakek yon belum berhenti juga, Ia tetap melanjutkan mencangkul.

“istirahat dulu kek…..” Teriak pemuda kurus dari atas gubuk.

“iya anak muda, kurang sedikit lagi. Kalian istirahat duluan saja biar aku selesaikian pekerjaan ini” jawab kakek yon.

“Tapi semua sudah istirahat kek, kakek ga cape apa?”

Pak Tua itu diam tidak menjawab. Ia lanjutkan mencangkul dan meneruskan sisa pekerjaannya. Sedangkan petani lainnya sudah kepayahan.

***

Seorang Tua bertenaga kuda, itulah kakek yon. Ia tidak pernah berhenti sebelum pekerjaannya selelai meskipun telah masuk waktu istirahat. Setelah semua selesai dicangkulnya, kakek Yon pun ikut nimbrung istirahat  bersama petani lainnya di gubuk sawah.

Ia nampak letih. Bibirnya agak pucat. Keringatnya tak henti-hentinya mengalir membasahi kulit yang telah keriput.

Pak tua itu manarik nafas dalam. Kemudian menyandarkan badannya di sebilah bambu ori yang mendindingi gubuk; seperti lainnya. Ia merebahkan tubuhnya kemudian memejamkan matanya perlahan-lahan.

“kek, kenapa kakek semangat sekali kerjanya?” pemuda kurus mulai membuka percakapan.

“Bahkan setiap hari kakek sangat bersemangat?”  sambung petani lainnya.

“Ia nih kek, aku saja yang masih muda kalah sama kakek. Pekerjaanku belum selesai sudah tak tinggal istirahat. Apa rahasianya sih kek?” pemuda gendut juga mulai angkat bicara.

Dalam istirahatnya kakek yon tersenyum. Kemudian Ia membuka matanya perlahan. Kakek yon ambil nafas dalam dan dijawablah pertanyaan mereka semua.

“Sebenarnya dulu waktu kakek muda, kakek adalah orang yang suka menunda-menunda pekerjaan. Itu membuat kakek sangat menyesal. 25 tahun lalu putra kakek satu-satunya meninggal dunia. Kakek masih ingat persis kejadiannya.

“Saat itu putra kakek sakit demam. Kakek merasa itu hanya sakit biasa. Kakek tidak lekas membawanya ke dokter. Satu hari, dua hari, tiga hari, sampai satu minggu belum juga kakek periksakan. Kakek menunda-nunda karena merasa putra kakek hanya sakit biasa saja. Kakek masih menunda-nunda karena mengira sakitnya bisa sembuh dengan sendirinya. Namun setelah seminggu kok sakitnya tidak sembuh-sembuh malah semakin bertambah parah. Demamnya semakin tinggi. Baru setelah itu kakek ada niat untuk membawanya ke dokter. Akan tetapi berbarengan dengan niat kakek untuk memeriksakannya, putra kakek telah menghembuskan nafas terakhirnya”.

“ ini semua salah kakek. Kenapa kakek sukanya menunda-nunda. Istri kakek terus saja menyalahkan kakek. Ia masih tidak bisa menerima atas hilangnya nyawa anak kami satu-satunya. Setiap hari ia hanya merenung dikamar. Ingin sekali rasanya kakek menghiburnya dan minta maaf kepadanya. Tapi kakek masih saja menunda-nunda untuk minta maaf karena kakek ingin mencari waktu yang tepat. Hingga akhirnya istri kakek jatuh sakit dan meninggal sebelum kakek mengucapkan maaf kepadanya”

“mulai hari itu kakek berjanji pada diri sendiri. Kakek tidak mau menunda-nunda lagi. Di sisa hidup kakek , kakek berjanji akan bekerja dengan baik dan tidak akan menunda-nunda pekerjaan. Karena kakek tidak ingin menyesal kedua kalinya”.

“kakek dulu adalah orang kota. Disana tiada yang peduli dengan kakek.  Tiada yang menghibur kakek. Akhirnya kakek pindah hidup di desa ini, yang kabarnya merupakan kampung damai. Memang hidup kakek semakin damai setelah tinggal di kampung ini”.

“Tetaplah jadi petani nak, jadi petani yang tangguh. Bukan soal hanya jadi petani, yang terpenting kita tidak saling khianat mengkhianati. Tetaplah jadi petani, nak. tidak mengapa, selama tetap hidup dalam tuntunan agama. Bekerjalah yang baik. jangan sampai kalian menyesal seperti kakek”.

Kakek yon mengalihkan pandangnya ke langit, Ia menerowong ke angkasa. Entah apa yang Ia lihat. Butiran-butiran air tetes demi tetes keluar dari matanya; membasahi pipinya yang hitam lebam oleh sengatan matahari dan telah keriput dimakan usia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita...

clotildajamcracker

The wacky stories of a crazy lady.

tekArtist

Warning: Widespread Weirdness

Caveat Automattor

you have been warned

The Typekit Blog

News about Typekit

Gary Takes Photos

Sometimes they're good.

Get 2 See

Follow along as we see the sights, eat the noms, and have the funs!

JJJ

BuddyPress, bbPress, BackPress, WordPress

Nick Momrik

Trying to get a hole-in-one

MacManX.com

Stuff from James Huff

Lens Cap

Casual glimpes into mundane suburbia

Learning by Shipping

products, development, management...

Matt Miklic

Designer, and other useful things.

alternatekev

blog://alternatekev.me

Ryan Boren

non-compliant neurodivergent

Secantik Bunga Peradaban Ilmu

manfaat, , dari dunia sampai akhirat

Sharikha Dalam Cerita…

corat.. coret.. curhat..

%d blogger menyukai ini: