Guru Teladan


Ia tersenyum mengingat kejadian yang telah lalu. Banyak kenangan manis coba Ia hadirkan dalam memori yang sudah mulai layu itu. Budi, anak alm. Pak sholihan yang nakalnya setengah mati berkali-kali muncul dalam ingatan. Lesung sesekali nampak dalam pipi Ibu setengah baya yang tengah hanyut dalam lamunan itu. Ia tersenyum. Sebuah senyum kepuasan. Bisa berarti juga senyum kemenangan. Menang karena Ia telah memenuhi harapan mendiang Bapaknya dahulu; yaitu menjadi seorang Guru. Ia telah menang melawan dirinya sendiri.

Ia mencoba menerowong masa lalu lebih jauh lagi. Masih lekat dalam ingatannya meski usianya telah senja; kata-kata Bapaknya dahulu ketika menolak mentah-mentah keinginannya untuk kuliah. Ia masih ingat beberapa hari setelah dinyatakan lulus dari SMP N 04 Bumikarang dengan nilai tertinggi –sekolah menengah terbaik se kabupaten Bumikarang.

“idah, Bapak tidak setuju kau melanjutkan sekolah ke SMA, nak. Mau apa kamu setelah lulus SMA? Mau kuliah dengan biaya dari mana nak?”

“tapi Bapak, pak Eko Kepala Sekolah-ku menyarankan aku melanjutkan ke SMA pak.” kata Idah dengan sedikit protes.

Nampaknya Ia masih bersikukuh agar bisa mewujudkan cita-citanya kuliah di jurusan Ekonomi.

“Sudahlah nak, turuti kata bapak. Kau lanjut saja sekolah di SPG (sekolah pendidikan Guru). Jadilah saja guru. Jadilah guru yang baik. Kau akan mendapatkan kebahagiaan kelak. Kebahagiaan tiada kiranya ”

Sekarang Ia baru mengerti. Benar memang apa yang telah dikatakan mendiang Bapaknya dahulu yang juga merupakan seorang guru. Kebahagiaan itu sekarang Ia rasakan. Guru adalah kaum mujahid melawan kebodohan. Peran mereka dalam dunia ini amat besar. Guru adalah pelita ditengah gelap gulitanya dunia.

Ibu tua itu kini tengah hidup sendiri menikmati masa pensiunnya yang terhitung mulai kemarin. Suami tercinta telah lama tiada dalam tabrakan maut kala itu. Ia tak kuasa mengingat-ingat kejadian yang sangat menyesakkan bagi dirinya dan keluarganya. Setelahnya, Ia berjuang sendiri menyekolahkan anak-anaknya. Betapa kini perjuanganya terbayar tuntas. Anak-anaknya sudah jadi orang, mereka semua telah berumah tangga dan hidup bahagia di Ibu kota. Lebaran tahun lalu, anak-anaknya datang berkunjung. Mereka semua berkumpul dalam balutan kerinduan tiada terkira di rumah tua yang dindingnya hanya berupa tumpukan batu bata dengan perekat semen.

Kemarin adalah hari terakhir Ia mengajar. Usianya memang telah senja. Pemerintah menetepkan masa pensiun seorang guru yaitu ketika usianya 55 tahun. Inilah yang membuat hatinya gundah. Baru saja Ia menyatakan pensiun, Ia  sudah amat merindukan murid-muridnya. Ia rindu mengajar. Ia rindu menjadi guru.

Mata ibu tua itu sayu. Tak jelas apa sedang ia tatap. Tatapannya kosong tanda Ia sedang memikirkan sesuatu. Kembali Ia hadirkan potret wajah-wajah muridnya dulu ketika pertama kali Ia menjadi guru. Kini giliran Murti, Marni, Eko, Supri dan para murid lainnya yang masih bisa diingat juga Ia kenang. Murti adalah murid paling cantik dikelas. Tutur katanya halus dan sopan. Marni, Eko, Supri ketiga-tiganya selalu berebut posisi menjadi bintang kelas. Nilai mereka selalu paling tinggi diantara murid-murid lainnya.

“Oh kalian bagaimana keadaan kalian sekarang, Ibu merindukan kalian semua” katanya membatin.

Tiga puluh lima tahun bukan-lah waktu yang pendek. Selama kurun waktu itu, ia mengabdikan diri menjadi seorang guru sekolah dasar di SD N Srimulyo 02. Entah bagaimana keadaan murid-muridnya sekarang. Terakhir kali Ia dengar kabar dari pak Ribut, tukang kebun SD N Srimulyo 02 yang telah dua puluh tahun mengabdi. Saat ini si Budi, murid paling nakal dan paling malas, sudah menjadi insinyur pertambangan dan bekerja di salah satu PT  di kalimantan. Kabarnya, Si Budi menduduki jabatan penting disana. Kembali lesung pipinya nampak. Senyumnya merekah.

“Alhamdulillah” ucapnya dalam hati.

 “kiri pak…..kiri” teriak seorang anak muda berpeci hitam yang duduk di sebelahnya sembari mengetuk-ngetukkan koin 500 rupiah di pintu angkot.

Ibu tua itu terperanjak kaget, buyarlah semua lamunannya. Mobil angkutan kota yang Ia tunggangi berhenti mendadak.

 “Wahidah Sriyani” begitulah tulisan di papan nama berbentuk persegi panjang yang tertempel di dada kirinya. Papan nama yang terbuat dari fiber berwarna hitam itu nampak telah lusuh, busam, dan pinggir-pinggirnya telah retak. Seorang Ibu tua itu memakai seragam berwarna coklat muda dengan tas hitam di tangannya. Ia memakai seragam seperti guru lainnya.

“turun dimana buk?” tanya sopir angkot.

“Depan SD srimulyo 02 pak” jawab Ibu guru yang rambutnya telah memutih itu dengan suara sedikit serak.

“200 meter lagi” kata pak sopir mantap.

Sehari-harinya, Ibu idah naik angkot ketika hendak mengajar. Jarak rumahnya dengan SD Srimulyo 02 agak jauh sekitar 8 kilometer. Hanya tinggal Bu idah satu-satunya penumpang di dalam angkot. Sesekali, pak sopir memandang lekat wajah Ibu guru itu lewat kaca spion depan. Ia pandangi lekat, dan lebih lekat lagi. Dari kaca spion depan Ia bisa membaca tulisan yang ada di papan nama Ibu guru tersebut.

“Wahidah Sriyani” ia mengeja dalam hati.

Sopir itu kemudian membelokkan angkotnya ke kiri, kemudian berhenti tepat di depan SD srimulyo 02. Ibu guru itu turun dan membayar tarif angkot.

Sopir angkutan kota yang melingkarkan handuk di lehernya itu belum juga menjalankan kendaraanya. Ia termenung di dalam angkot dan menatap guru tua itu dari belakang.

“Wahidah Sriyani, Wahidah Sriyani, Wahidah Sriyani, siapa ya?” begitulah pak sopir mengulang-ulang nama ibu guru tadi dalam hati. Nampaknya nama itu tidak asing bagi dirinya. Ia terus saja berpikir. Dan akhirnya Ia ingat!

“Bu Idah!” teriaknya.

Bu idah berhenti berjalan, dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

“Bu idah, ini eko buk muridmu dahulu. Ibu masih ingat aku?”

“Eko anaknya pak tejo? Muridku yang dulu selalu juara 1?” tanya balik bu Idah.

“iya buk…ah ibuk bisa aja”jawabnya sedikit gugup.

Mereka berdua saling bertatap wajah erat-erat, bagaikan anak ayam yang berpuluh tahun berpisah dengan induknya, kemudian melanjutkan percakapan singkat yang sangat hangat.

“Ibu belum pensiun ya?”

“Sebenarnya sudah. Terhitung dari hari kemarin seharusnya ibu mulai pensiun.” Jawab Bu idah.

“Tapi itulah yang Ibu gundahkan. Ibu tak mau pensiun nak.  Ibu akan menjadi guru sepanjang usia.  Pagi ini Ibu berangkat ke sekolah untuk menjadi guru yang ke dua kalinya. Walau tak dibayar Ibu akan tetap mengajar. Gaji pensiunan ibu walau tak seberapa masih cukup untuk hidup sehari-hari. Ibu ingin terus mengajar sampai Ibu mati. Karena Ibu saking cinta pada dunia pendidikan. Setiap malam, Ibu selalu berdoa agar murid-muridku menjadi manusia-manusia yang baik dan berhasil”.

Eko menundukkan kepalanya. ia merasa bersalah dan menyesal.

“Tidak mengapa kau kini hanya menjadi sopir angkot, yang penting berlakulah jujur. Seperti pesan ibu pada murid-murid ibu lainnya agar selalu berlaku jujur.Betapa mulianya sopir angkot nak. Jasa mereka amat besar. Tidak mengapa menjadi sopir angkot asal tidak berkhianat pada negara.”

Eko berterima kasih sekali pada guru SD nya dulu. Ia seperti mendapat suntikan semangat lagi. Mulai esok hari dan seterusnya, eko selalu mengantarkan bu idah ke sekolah, dan untuk Ibunda guru tercinta “ Bu Wahidah Sriyani”  ia tidak menarik tarif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita...

clotildajamcracker

The wacky stories of a crazy lady.

tekArtist

Warning: Widespread Weirdness

Caveat Automattor

you have been warned

The Typekit Blog

News about Typekit

Gary Takes Photos

Sometimes they're good.

Get 2 See

Follow along as we see the sights, eat the noms, and have the funs!

JJJ

BuddyPress, bbPress, BackPress, WordPress

Nick Momrik

Trying to get a hole-in-one

MacManX.com

Stuff from James Huff

Lens Cap

Casual glimpes into mundane suburbia

Learning by Shipping

products, development, management...

Matt Miklic

Designer, and other useful things.

alternatekev

blog://alternatekev.me

Ryan Boren

non-compliant neurodivergent

Secantik Bunga Peradaban Ilmu

manfaat, , dari dunia sampai akhirat

Sharikha Dalam Cerita…

corat.. coret.. curhat..

%d blogger menyukai ini: