Budaya Sambatan


Sungguh beruntung  aku lahir di desa. Tumbuh dan besar disana. Banyak pelajaran yang aku dapatkan. Banyak nilai-nilai yang bisa aku pegang, tamatkan dalam hati dan amalkan. Insya allah. Yang aku maksud dengan nilai itu adalah budaya atau kebiasaan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat desa. Diantaranya semangat gotong royong.

Di desa ada “sambatan”. ketika ada yang sedang bangun rumah atau renovasi rumahnya, yang lain akan  ikut membantu meski tanpa diminta. Banyak canda dan tawa ketika mereka sedang bekerja bersama-sama. Sungguh betapa kentalnya semangat gotong royong di desa. Selain itu ada juga  “kerigan” yaitu kerja bakhti bareng2 membersihkan lingkungan.  Ada pula “jimpitan”, gambarannya begini. Satu RT misalkan ada 32 rumah. Setiap rumah di depannya harus membuat wadah kecil untuk digantungkan dimana saja yang penting kelihatan; bisa dari gelas aqua atau lainnya. Wadah itu gunanya untuk di isi uang 100 rupiah setiap hari. Beneran 100 rupiah. Kemudian setiap keluarga berurutan gantian mengambil uang jimpitan itu dari rumah ke rumah yang masih dalam satu RT. Uang seratus-seratus di kumpulkan. Berarti sehari ada 3200 kemudian uang tersebut diserahkan ke bendahara RT. Setelah berapa lama kan terkumpul tuh uang, nah gunanya untuk membeli peralatan yang sekiranya berguna untuk masyarakat. Bisa untuk membeli piring atau perabot rumah. Kalau misal ada yang punya gawe butuh banyak piring kan ga usah sewa tinggal pinjem aja soalnya perabot tersebut milik bersama.

Uniknya, ada aturan mewajibkan setiap kelurga (perwakilan, biasanya dulu aku yang ambil jimpitan,hehe) harus muter mengambil uang seratus-seratus rupiah itu. Kalau misalkan kita langsung ngasih ke bendahara RT sejumlah 3200 rupiah tanpa mau mengambil jimpitan maka akan dikenakan denda. Kegiatan semacam ini  fungsi sebenranya untuk mengakrabkan antar keluarga dilingkungan RT dan menjalin tali silaturohmi semakin erat.

Ketika ada yang baru punya gawe, nikahan atau sunatan tetangga2 pun ikut rewang. Ada sebuah kisah yang membuat hatiku terharu; aku punya tetangga dulu Ia masih bocah. Sekarang sudah gedhe. Saat itu keluarganya punya masalah, Bapaknya sakit, Ibunya merantau ke luar negeri sudah lama ga ngasih kabar. Karena memang anak itu pengen khitan dan sudah waktunya untuk itu, akan tetapi keluarganya tidak punya biaya. Akhirnya tetangga-tetangga yang lain berinisiatif iuran  seikhlasnya untuk ongkos khitannya. Acara dilaksanakan dengan sederhana.  Banyak yang menangis atas peristiwa itu.

Sungguh……… di desa, semangat untuk saling membantu sangat terasa. Hal ini jauh berbeda dengan kondisi di kota. Beberapa tahun hidup di kota, aku merasakan sesuatu yang amat bertolak belakang. Memang tidak semua orang kota berlaku demikian, pun halnya tidak semua orang desa juga mau berlaku seperti tersebut diatas. Namun kebanyakan, kataku!

Dulu ketika kos ku masih di sekitar kali banjir kanal barat, aku masih ingat persis ketika tengah malam perutku lapar sekali. Aku keluar mencari makan di warung nasi kucing. Ada beberapa orang kala itu. Tidak lama kemudian ada mobil mendekat, plat jakarta mau tanya alamat. Aku tidak tahu dimana karena aku bukan asli semarang dan memang baru sebentar tinggal di semarang. Lalu, salah seorang yang duduk di sampingku segera menunjukkan alamatnya. Namun ia tidak dengan jelas dan rinci menunjukkan alamat yang dimaksud. Nah yang membuat hatiku tertegun, Ia bilang begini.

“Anda mau bayar saya sekian akan saya antarkan anda ke alamat yang dituju”.

Pertanyaan ku, kenapa orang kota (tidak semua) terlalu materialistis? Apa susahnya menjawab? Apa jeleknya menolong orang?

Kejadian lain, persis terjadi hari ini. Tepatnya tadi pagi. Saat berangkat kuliah mobil si Firman (temen se-kosku) roda belakangnya kejebak masuk selokan. Mobilnya tidak bisa berkutik. Dari belakang aku melihat si firman kebingungan mencari bantuan. Aku menghampirinya. Ku coba dorong namun tidak kuat. Alhamdulillah datang lagi si dimas ikut membantu mendorong namun tenaga kami masih tidak cukup kuat. Ada bapak-bapak yang datang menghampiri dengan nada sedikit marah-marah bilang gini, ini harus di tarik dengan tambang. Kalau tidak ditarik tidak akan bisa.

“yaudah pak bapak punya tambang? Boleh pinjem?” sambung si firman.

“lha mau ditarik pake motor? ya ga bisa! Ya sana cari anak saya, kalau mau nyewa tambang dan mobil dereknya” jawab bapak itu dengan nada sinis.

Aku masih ingat betapa pedes omongan bapak tadi. Wajar sih mungkin mobil si firman menghalangi jalan kali ya…??

Akkhirnya datang si fathendra ikut membantu. Tenaga kami bertambah. Datang pula bapak2 lain lagi. Si bapak yang marah tadi masih aja ngomel tidak jelas. Akhirnya tanpa basa-basi kami bertiga dorong mobilnya, satu orang di dalam mobil menginjak gasnya dan alhamdulillah BISA !!

anehnya bapak2 tadi tidak ada yang membantu. Alhamdulillah kami pun tidak ada yang telat skill lab hari ini.

Yang menjadi pertanyaan-ku, kenapa orang kota (tidak semua) terlalu materialistis? Apa susahnya menjawab? Apa jeleknya menolong orang?

 Hayo kawan, mari  kita tingkatkan semangat gotong royong dan tolong menolong. jangan lupa kita ini satu keluarga, satu jiwa, satu perasaan, satu hati, satu cita-cita….. karena kita sama-sama berasal dari rahim ibu pertiwi. Mari kita buat Ibu pertiwi tersenyum🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita...

clotildajamcracker

The wacky stories of a crazy lady.

tekArtist

Warning: Widespread Weirdness

Caveat Automattor

you have been warned

The Typekit Blog

News about Typekit

Gary Takes Photos

Sometimes they're good.

Get 2 See

Follow along as we see the sights, eat the noms, and have the funs!

JJJ

BuddyPress, bbPress, BackPress, WordPress

Nick Momrik

Trying to get a hole-in-one

MacManX.com

Stuff from James Huff

Lens Cap

Casual glimpes into mundane suburbia

Learning by Shipping

products, development, management...

Matt Miklic

Designer, and other useful things.

alternatekev

blog://alternatekev.me

Ryan Boren

non-compliant neurodivergent

Secantik Bunga Peradaban Ilmu

manfaat, , dari dunia sampai akhirat

Sharikha Dalam Cerita…

corat.. coret.. curhat..

%d blogger menyukai ini: