Tidak Peduli


Negeri ini telah menjelma menjadi tempat amat menakutkan. Bukan karena banyak bencana sering singgah. Bukan pula karena banyaknya orang jahat disini. Namun karena para manusianya sudah tidak lagi peduli. Ketidakpedulian inilah penyebab kehancuran suatu bangsa. Maka sebetulnya dari titik ini pula akar daripada seluruh masalah. Rasa itu kini tengah melanda.

Padahal sepertinya sepele; hanya “tidak peduli”. Contoh simpelnya begini, jika kita tidak peduli dengan diri sendiri misalnya. Saat perut lapar tidak peduli karena kita sibuk memberi komentar satu persatu status teman di jejaring sosial, waktunya istirahat tidak peduli karena ada pertandingan big match dini hari, waktunya belajar tidak peduli karena harus nonton film yang baru saja dirilis. Harusnya yang saat itu kita makan atau meng-istirahatkan tubuh namun kita malah tidak peduli dan memaksa tubuh ini kerja ekstra. Maka ‘sakit’ lah tubuh kita. Tubuh kita ibaratkan sebuah mesin yang juga butuh diistirahatkan. Selain itu juga butuh perawatan rutin agar dapat bekerja maksimal. Maka perawatan itulah sebenarnya rupa lain daripada kepedulian (lawan dari ketidakpedulian). Begitu pula kira-kira analoginya untuk sebuah bangsa. Apabila rasa tidak peduli merajalela, maka jangan diharap segala persoalan dapat terselesaikan. Dan akhirnya bangsa inipun akan sakit dalam waktu lama.

Para pejabat yang korup adalah wujud dari rasa tidak peduli yang tengah menggejala dalam setiap pribadi. Mereka  sudah tidak peduli lagi dengan yang namanya tanggung jawab. Mereka tidak lagi peduli dengan amanah dari rakyat. Mereka tidak peduli lagi pada sumpah jabatan yang pernah terucap. Tidak peduli betapa besar dosa yang harus ditanggung kelak, tidak peduli betapa berat siksaan di alam akhirat nanti. Hasilnya banyak terjadi penyelewengan atau pejabat yang mbalelo.

Ketika kita berkendaraan contoh lainnya. Sampai pada suatu persimpangan di depan mata ada lampu merah menyala. Tiba giliran yang mendapat lampu hijau yang berjalan. Namun anehnya, dari arah yang lain ada saja kendaraan nyelonong meski rambu berhenti nyata terlihat. Akibatnya, “brak” terjadilah kecelakaan. Bisa jadi orang yang nyelonong tadi tergesa-gesa. Namun sebetulnya kejadiannya adalah Ia tidak peduli. Ia tidak mempedulikan peringatan. Ia tidak mempedulikan peraturan. Ia tidak mempedulikan orang lain. Kalau sudah begini, siapa yang dirugikan. Tentu semua pihak. Maka sebetulnya rasa tidak peduli ini telah terjadi dalam tingkah laku masyarakat kita dan parahnya sudah dianggap biasa.

Perilaku tidak peduli inipun sudah sampai pada generasi muda. Tak asik rasanya saat usia muda kok tidak punya pasangan, ketinggalan jaman gitu looh…… !! “truk aja punya gandengan, masa kita tidak?” kata seorang muda-mudi yang lagi galau. Pacaran atau menjalin hubungan sebetulnya juga wujud dari ketidakpedulian. Hanya egoisme dan nafsu yang mendominasi walaupun kelihatannya dibalut dengan rasa kasih sayang dan kepedulian tingkat tinggi. Perlu dipertegas lagi rasanya “hanya kelihatanya saja”.

 “semua ini kan aku lakukan karena aku peduli denganmu?”  (romeo)

perhatikan, darimana rasa pedulinya coba, kalau waktunya harus belajar malah diajak sms-an, kalau waktunya ujian malah diajak chatingan, dimana rasa pedulinya kalau tiap makan disuruh bayarin? Jangan sok kuat, kita ini sama-sama mahasiswa kan? Uang saku aja masih minta. Dimana pedulinya coba kalau-kalau orang yang bilang peduli denganmu justeru merusak masa depanmu? Sekarang banyak fenomena LKMD atau kepanjangannya lamaran kari meteng dhisik (yang tidak bisa bahasa jawa kasihan deh lu, hehe). Peduli ? masihkah kita merasa dipedulikan? Tepatnya orang yang pacaran itu hanya mempedulikan dirinya sendiri. Maka cepet-cepet putus dan menikahlah, itu lebih baik.

Ketika kita tidak peduli lagi dengan lingkungan, jangan ditanya alam pun bisa mengamuk. Bencana alam sudah pasti akan terjadi. Kita lihat banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya itu semua ada karena kita sudah tidak peduli. Bumi ini tetap bertahan karena ia diciptakan dengan keseimbangan dan keharmonisan, maka jika sedikit saja kita rusak maka kita tunggu saja kehancurannya.

Sebagaimana uraian diatas bahwa ketidakpedulian akan menimbulkan bencana. Apa jadinya jika generasi muda sekarang ini sudah tidak peduli lagi dengan masa depan negaranya. Semoga pemiliknya lebih peduli lagi. Entah negara milik siapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita...

clotildajamcracker

The wacky stories of a crazy lady.

tekArtist

Warning: Widespread Weirdness

Caveat Automattor

you have been warned

The Typekit Blog

News about Typekit

Gary Takes Photos

Sometimes they're good.

Get 2 See

Follow along as we see the sights, eat the noms, and have the funs!

JJJ

BuddyPress, bbPress, BackPress, WordPress

Nick Momrik

Trying to get a hole-in-one

MacManX.com

Stuff from James Huff

Lens Cap

Casual glimpes into mundane suburbia

Learning by Shipping

products, development, management...

Matt Miklic

Designer, and other useful things.

alternatekev

blog://alternatekev.me

Ryan Boren

non-compliant neurodivergent

Secantik Bunga Peradaban Ilmu

manfaat, , dari dunia sampai akhirat

Sharikha Dalam Cerita…

corat.. coret.. curhat..

%d blogger menyukai ini: