Muso dan Soekarno: Sahabat, Guru Sekaligus Seteru


images

Orang bilang politik itu kejam, tidak kenal siapa kawan siapa lawan. Sebentar menjadi bersahabat, satu kali beda pendapat maka jangan harap hubungan akan tetap hangat. Memang pendapat itu tidak sepenuhnya keliru. Dalam dunia politik hal semacam itu seringkali terjadi. Akan tetapi kalau kita melihat dari sudut pandang berbeda, justeru akan muncul kata maklum dalam sanubari kita.

Sangat jauh berbeda antara dunia politik saat ini dengan dunia politik pada jaman kemerdekaan. Kalau kita melihat di media massa sekarang ini, mereka seolah tak pernah berhenti saling tuduh, saling menyalahkan, saling lempar tangungjawab, bahkan jurnalis-jurnalis pun ikut terseret arus politik yang kotor itu. Fitnah lawan tidak bisa dihindarkan demi merebut simpati. Media massa dikuasi hanya untuk menarik sebanyak-sebanyaknya keuntungan pribadi. Begitulah, kalau niat awal berpolitik hanyalah untuk mengejar keuntungan dan memperkaya diri. Bukan diniatkan untuk mengabdi. Walaupun tidak semua politisi pada jaman sekarang bersikap demikian. Namun kebanyakan, kataku!

Yang dinamakan kawan adalah saat berada dalam satu tujuan, satu visi dan misi pribadi. Kalau tidak lagi sejalan, tidak lagi ada harapan menjadi teman. Sedang dibelakangnya, akan diikuti beribu-ribu keinginan untuk dendam. Akibatnya seperti yang kita lihat, saling menjatuhkan dan saling membunuh pangan. Yah, karena tujuan orang berpolitik sekarang ini hanyalah untuk kepentingan kelompok tertentu, bukan lagi mengedepankan kepetingan umum.

Meskipun hal demikian itu juga terjadi pada jaman kemerdekaan dulu. Akan tetapi persengketaan antara pelaku politik itu terjadi bukan atas dasar kepentingan pribadi seperti saat ini. Mereka berselisih paham, perang urat syaraf, murni karena demi mempertahankan ideologi negara.Seperti peristiwa yang terjadi antara Muso dan Soekarno. Mereka berdua adalah teman pada awalnya. Tinggal di rumah kontrakan yang sama, ketika masih sama-sama muda. Rumah HOS cokroaminoto itu menjadi saksi sejarah roman persahabatan antara keduanya.

Setelahnya, Muso bersekolah di Rusia belajar tentang paham komunis. Sedangkan soekarno meneruskan kuliah di bandung. Setelah berapa puluh tahun berpisah takdir mempertemukan keduanya di istana negara yang baru saja berdaulat, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan Soekarno, telah diangkat menjadi presiden yang pertama. Banyak orang mengenang kisah pertemuan antara dua insan sahabat itu begitu mengharu biru. Pada jaman kemerdekaan, semua sama-sama berjasa.  Entah itu nasionalis, komunis, marhaen, kelompok agama, semua bersatu melawan kaum penjajah.

Soekarno dan Muso saling berpelukan, bak kekasih. Tanpa suara, tanpa bicara, hanya mata yang saling memandang. Mata keduanya bertemu saling mengenang, saling menyapa, saling berbicara dalam bahasa isyarat yang hanya mereka berdua mengerti. Lama sekali mereka dipisahkan. Pada saat itu, dalam pidatonya Soekarno memperkenalkan Muso kepada awak media. Dia bilang kalau muso ini paling jago berkelahi, selalu menyingsingkan lengannya setiap hendak berpidato. Begitulah mereka saling memuji satu sama lain. Soekarno juga mengatakan muso adalah gurunya.

Tiga puluh tujuh hari setelah pertemuan keduanya itu, tiada banyak yang mengira jikalau sesudahnya antara Soekarno dan Muso saling terjadi silang pendapat, saling mencerca di berbagai media. Mungkin masalah ideologilah yang mengharuskan fisik mereka harus berpisah, dan memutuskan untuk menjadi seteru. Soekarno dengan pancasilanya sedangkan muso dengan paham komunisnya. Tidak lama setelah itu, pecah pemberontakan PKI di madiun. Tanpa pandang kawan atau bukan, Soekarno memerintahkan untuk menumpas para pelakunya dan menghukum mati. Demikianlah akhir dari kisah keduanya.

Mereka sadar musuh politik bukan berarti musuh pribadi. Jadi, di luar dunia perpolitikan mungkin saja mereka tetap bersaudara, selamanya. Seperti juga kisah pasang surutnya hubungan Soekarno dan Hatta, sang dwi tunggal. Dua di dalam satu. Meski sama-sama kuat mereka berdua tidak pernah berada dalam satu getaran gelombang yang sama. Bahkan kata soekarno dalam hal apapun perbedaan pendapat antara keduanya tidak bisa dielakkan. Pernah suatu ketika guntur putra sulung soekarno mau menikah.  Entah karena tugas kenegaraan atau sebab lain Soekarno tidak bisa menghadiri pernikahan anaknya tersebut. Saat itu guntur kebingungan mencari wali nikah. Tanpa ragu Soekarno menyebut Hatta. Memang pada waktu itu hatta telah memutuskan untuk mundur dari jabatan wakil presiden. Sementara Soekarno tidak sudi untuk menggantinya dengan siapapun.

Walhasil, Guntur pun kaget dan tak yakin bung hatta bersedia. Kemudian Soekarno menyebutkan, hatta bisa mencaci maki dirinya tentang berbagai kebijakan politik, tapi dalam kehidupan pribadi mereka terikat persaudaraan erat selama memperjuangkan kemerdekaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita...

clotildajamcracker

The wacky stories of a crazy lady.

tekArtist

Warning: Widespread Weirdness

Caveat Automattor

you have been warned

The Typekit Blog

News about Typekit

Gary Takes Photos

Sometimes they're good.

Get 2 See

Follow along as we see the sights, eat the noms, and have the funs!

JJJ

BuddyPress, bbPress, BackPress, WordPress

Nick Momrik

Trying to get a hole-in-one

MacManX.com

Stuff from James Huff

Lens Cap

Casual glimpes into mundane suburbia

Learning by Shipping

products, development, management...

Matt Miklic

Designer, and other useful things.

alternatekev

blog://alternatekev.me

Ryan Boren

non-compliant neurodivergent

Secantik Bunga Peradaban Ilmu

manfaat, , dari dunia sampai akhirat

Sharikha Dalam Cerita…

corat.. coret.. curhat..

%d blogger menyukai ini: