Sejumput Cinta di Bulan Ramadhan


islamic-mosque-dome-vector-design-of-adobe-illustrator-islamic-ramadhan-wallpaper-vector-design_11-39015Pagi ini, saya telah kembali di rumah. Alhamdulillah minggu ini kegiatan saya di DKK semarang dipadatkan cuma 2 hari ditambah 1 hari di KKP semarang. Selebihnya libur. Kegiatan journal reading juga telah selesai minggu sebelumnya. Yahh itung itung buat persiapan aktivitas 2 minggu berikutnya di puskesmas genuk. Paling –paling yang saya butuhkan hanya persiapan mental aja sih, melatih diri supaya bisa tenang, dan belajar memberikan pelayanan kesehatan terbaik buat masyarakat, dan terutama tentang management puskesmas serta bagaimana setrategi mengelola kesehatan suatu masyarakat diwilayah tertentu.

Oya tidak lupa DOA, itu juga termasuk persiapan terpenting ketika saya mulai melangkahkan kaki menyelami kehidupan. Bagi saya, DOA orang tua itu amat sangat penting. Karena itu saya pulang. Setiap hendak apapun saya biasakan minta restu bapak dan ibu. Semoga semua lancar. Amiiin.

Haloo kawanku, Bagaimana kabar kawan sekalian? Saya doakan sehat selalu, berkah usianya dan bermanfaat bagi semua. Setelah berbulan-bulan tidak menulis diblog, rasanya agak kaku juga nih. Sempat bingung mau menulis tentang apa, dan mulai dari mana. Hehe….. nah mumpung ini bulan baik, bulan suci-nya umat islam, saya ingin berbagi pemahaman saya tentang kehidupan. Semoga apa yang saya tulis disini bermanfaat bagi kita semua, semoga Allah ta’ala menjauhkan saya dan kawan semua dari sifat ingin dilihat, ingin dipandang, ingin pamer, ingin dipuji, dan lain sebagainya. Semoga niat kita hanya lillahi ta’ala.

Berpuasa bersama keluarga memang terasa lebih menyenangkan kawan. Beda sekali rasanya ketika jauh dari orang yang kita sayangi. Kebersamaan yang kita bangun dalam keluarga, subhanallah kental sekali terasa.

Bulan ramadhan itu juga makhluk sebagaimana kita. Ia diperintahkan untuk menguji siapa diantara kita yang bener-bener taat kepada Allah swt. Siapa yang benar-benar memperbaiki diri, memperbaiki jiwa, dan hati. Di bulan ramadhan orang yang biasanya pemarah ia jadi lembut, orang yang biasanya tidak pernah ngaji jadi rajin ngajinya, sholatnya, ibadahnya, yah tidak jauh bedalah dengan diri saya sendiri. Namun disini ingin saya katakan, luar biasa sekali bukan bulan ramadhan itu. Di bulan ini juga Allah membuka lebar-lebar pintu maafnya. Agar kita bisa dimasukkan ke surganya kelak. Nah tentang surga dan neraka, nanti kita diskusikan belakangan.

Muncul pertanyaan dalam benak saya, kenapa harus ada ramadhan? Kenapa kita diwajibkan berpuasa? Bagaimana kalau seandainya ramadhan itu dicabut? Tentu saya akan menderita kawan. Karena tak tau lagi kemana arah yang saya tuju buat kembali kejalan-Nya.

Ramadhan itu bagi saya adalah pembersihan jiwa. Itulah kemurahan Allah Yang Maha Penyayang. Allah itu maha tau diatas segalanya. Kita yang masih hidup sampai detik ini tentunya, kita adalah manusia-manusia yang dicintai Allah. Dan kita tidak akan pernah tau sampai kapan bulan ramadhan ini dicabut dari diri kita. Tau kan yang saya maksud bulan ramadhan bisa dicabut dari diri kita? Yah kawan, yaitu ketika mulai meregangnya nyawa dan raga. Yaitu ketika kita mati. Astagfirullahaladzimm……….. jangan lah Engkau cabut nyawa hamba dalam keadaan buruk ya Allah, dalam keadaaan yang tidak bertaubat kepada engkau. Sesungguhnya kami hanya manusia lemah, manusia yang hatinya mudah sekali goyah. Ya Allah ya hayyu ya qoyyum, ya allah yang maha pembolak balik hati hambanya, teguhkanlah hati kami diatas agamamu yang lurus. Aamiiin…….

Mari kita renungkan bagaimana jika ini adalah bulan ramadhan terakhir kita?

Kawan, Allah itu maha pemurah. Dia tau, kita ini umat yang lemah. Kita ini punya banyak dosa. Dari dosa yang tidak kelihatan sampai dosa yang terlihat. Dan setiap waktu, setiap detik Allah akan selalu memberi cobaan kepada kita tanpa kita menyadarinya. Namun sayangnya banyak sekali diantara kita yang merasa sebagai orang yang suci yang tidak pernah berbuat dosa. Dengan alibi, mereka tidak pernah melakukan larangan larangan agama.

Wuallhu’alam. Kawan, yang menentukan perbuatan kita berdosa atau berpahala itu  Allah. Bukan kita. Tugas kita adalah sekuat hati dan jiwa untuk berbuat kebaikan. Hanya allah hakim yang paling adil. Bukan kita. Sementara amal perbuatan kita belum ditimbang, kenapa kita sudah menjugde orang lain lebih buruk, dia jahat, kita lebih baik. Ingatlah perjalanan kehidupan seseorang berbeda-beda, umur seseorang juga tidak sama. Kita tidak punya hak sama sekali buat mengadili orang lain.

Nabi saja didatangkan kedunia beliau tidak pernah menghakimi umat, beliau tidak menyalahkan umat, beliau tidak menghukum umat yang dahulunya fasik dan ingkar, namun beliau berdakwah dengan kasih sayang dan kelembutan, dengan tindakan dan gaya bicara yang amat lembut, dan dengan kecintaanya kepada kita semua beliau mensucikan umat, agar kita bisa kembali kepada jalan yang lurus. Agar kita bisa diampuni segala kesalahan kita yang telah lalu.

Lalu, masihkah kita merasa diri kita baik walaupun kita tidak pernah melanggar hal yang dilarang agama? cobalah pikirkan, amal perbuatan kecil bisa jadi besar, amal perbuatan besar bisa jadi kecil tergantung dari niatnya. Semua itu Allah yang maha melihat, Allah yang maha mengetahui isi hati kita.

Ingat-ingatlah kembali, pernahkah suatu ketika engkau tersandung batu? Lalu engaku mengucapkan kata-kata kotor, menyebut nama binatang, dan lain-lain. Bisa jadi, batu sekecil itu adalah cobaan yang Allah berikan kepadamu, apakah kamu benar-benar orang yang berlaku sabar atau tidak, bisa jadi dari batu sekecil itu kamu bisa meleset dari surganya.

Ingat-ingat kembali, pernahkah suatu ketika engkau sedang sibuk-sibuknya, ada seorang teman yang minta tolong kepadamu, lalu engkau mengabaikanya dan malah balik marah kepadanya? Bisa jadi itu ujian yang didatangkan kepadamu, apakah kamu adalah termasuk orang yang mau berkurban demi sesama. Bisa jadi dari itu kamu meleset dari surganya.

Ingat-ingat kembali, pernahkah engkau didatangi orang yang minta nasihat melakukan kesalahan dosa akibat dari kekhilafannya, lalu engkau malah membodoh-bodohkannya, menghardiknya, mengkotor-kotorkannya, bisa jadi itu adalah ujian buatmu apakah kamu termasuk orang yang tulus mencintai sesama. Bisa jadi dari itu kamu malah terpeleset dari surganya, dan bisa jadi juga akibat kamu marah-marahi orang itu bertaubat dengan taubatan nasuha, dan memperoleh kedudukan yang tinggi daripadamu, meskipun engkau tidak pernah melakukan dosa yang ia lakukan.

Kawan, hidup ini penuh dengan cobaan. Kapan cobaan itu datang, Allah tidak memberi tahu kita terlebih dahulu. Bisa kapan saja sekehendak-Nya. Saat kita dilahirkan di muka bumi, kita datang dengan berbagai wajah yang berbeda-beda, ada yang cantik ada yang biasa, ada yang ganteng, ada yang biasa. Itu juga merupakan cobaan bagi kita. Karena tubuh hanyalah sekedar kendaraan. Belum tentu ketika engkau diberikan kecantikan engkau akan mampu menjaga dirimu.

Ketika kita diberi akal, itu juga merupakan cobaan. Karena manusia itu punya pikir. Mencari kebenaran sesuai dengan apa yang dianggapnya benar, jadi kita lebih cenderung mencari pembenaran, bukan kebenaran yang hakiki. Dan masih banyak sekali cobaan cobaan yang Allah kirimkan untuk kita.

Marilah kita contoh pribadi Rasul Muhammad, beliau penyayang, penyabar, tidak pernah tertarik membahas kesalahan orang lain, keseharian beliau hanya fokus pada diri sendiri, subhanallah…….pernah suatu ketika tatkala beliau sedang bercengkerama dengan para sahabat, datanglah seorang wanita membawa buah limau, yang bentuk buahnya bisa membuat siapapun mengalir air liurnya. Namun tidak seperti biasanya, beliau tidak membagikan buah limau itu kepada para sahabat. Beliau melahap semuanya. Setiap habis melahab satu buah beliau sambil tersenyum, sampai buahnya habis semua dimakan. Kemudian beliau mengucapkan terima kasih kepada wanita itu dan tidak lama kemudian wanita itu undur diri.

Lalu salah satu sahabatnya yang tercengang bertanya, wahai nabi kenapa engkau makan sendiri buah itu? Muhammad menjawab “ sesungguhnya pertama kali aku makan buah itu, amat sangat masam sekali rasanya, aku khawatir kalau aku bagi dengan kalian, kalian tidak akan kuat menahasan rasa masamnya, dan wanita itu akan kecewa”

Subhanallah betapa cantiknya akhlak beliau. Sesungguhnya wanita itu hanyalah ingin mengerjai beliau dan sahabat, namun apa balasanya dari beliau? Senyum ketulusan dan rasa terima kasih.

Apakah kita sudah dapat berbuat demikian?

Itulah sejatinya pribadi muslim yang sesungguhnya. Islam bukanlah sekedar ibadah fisik tapi hatipun juga harus kita tata dan terus perbaiki. Soal surga dan neraka itu urusan Allah. Soal baik buruk kita tidak bisa menilai karena memang hanya allah hakim paling adil atas semua perbuatan kita di dunia. Itu bukan tugas manusia. Tugas kita adalah melakukan perbaikan pada diri kita sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita...

clotildajamcracker

The wacky stories of a crazy lady.

tekArtist

Warning: Widespread Weirdness

Caveat Automattor

you have been warned

The Typekit Blog

News about Typekit

Gary Takes Photos

Sometimes they're good.

Get 2 See

Follow along as we see the sights, eat the noms, and have the funs!

JJJ

BuddyPress, bbPress, BackPress, WordPress

Nick Momrik

Trying to get a hole-in-one

MacManX.com

Stuff from James Huff

Lens Cap

Casual glimpes into mundane suburbia

Learning by Shipping

products, development, management...

Matt Miklic

Designer, and other useful things.

alternatekev

blog://alternatekev.me

Ryan Boren

non-compliant neurodivergent

Secantik Bunga Peradaban Ilmu

manfaat, , dari dunia sampai akhirat

Sharikha Dalam Cerita…

corat.. coret.. curhat..

%d blogger menyukai ini: