Banjir? Wajarlah


gagasanriauBanyak orang mengatakan kalau banjir itu musibah, bencana alam, yang harus kita terima keberadaanya. Sebagai umat beragama kita emang diajarkan untuk mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Hujan deras terus menerus tanpa jeda yang mulai turun akhir desember tahun 2013 lalu sampai sekarang ini, membuat debit air tanah jenuh dengan air hujan sehingga akibatkan banjir. Sungai-sungai pun sudah tak dapat lagi menampung guyuran volume air dari langit. Air meluap sampai pemukiman warga. Jalan-jalan penting penghubung antar kota pun lumpuh total beberapa saat.

Dimulai dari Ibu Kota Negara kita tercinta (eh, Ibu Kota Indonesia yang punya banyak anggaran untuk pembangunan Banjir Wooooeee…….,kalau saya teriak-teriak seperti itu pasti bakal dilempar bata dan semua orang akan berkata banjir itu musibah yang datangnya dari Tuhan, woles ajalah bro….), dan daerah-daerah lain seperti Kendal, Semarang, dan jalur pantura (Demak, kudus, pati, rembang), bahkan kota surabaya yang sangat jarang sekali terjadi banjir pun terkena dampaknya.

Tak lama setelah banjir melanda berbagai daerah, Pemerintah pusat mengeluarkan himbauan “banjir sebagai bencana nasional”. Semua pihak diharapkan waspada lan nerimo. Yah, mau bagaimana lagi namanya musibah ya kita harus menerimanya dengan lapang dada dan ambil pelajaran positif darinya. Di media sosial pun hampir semua orang berkomentar soal musibah banjir yang sedang melanda negara tercinta kita ini. Diantara mereka ada sekelompok orang yang “kelihatanya kaum beragama” menulis “Banjir melanda akibat banyak orang musrik di negeri ini”,  yang lain berkata kalau banjir melanda karena Tuhan tengah meng-Azab para pelaku maksiat. Dan yang lainnya lagi, banjir sebagai kesempatan untuk ajang narsis-narsisan.

Boleh lah, anda berkomentar begitu. Tapi tolong mengertilah Kami disini para orang kotor, ya kami para pendosa, para pelaku maksiat, para orang-orang buruk disini, atau mungkin kalian menganggap Tuhan sedang menghukum kami dengan banjir ini, tolong mengertilah keyakinan kami, kalau Tuhan maha penyayang dan Tuhan tidak akan tega menyiksa kami. Lalu kalian orang-orang suci yang tidak pernah berdosa merasa tidak pantas mendapat musibah ini. Kami ingin menyampaikan, budayawan sekaliber Prie Gs pernah bertutur kepada semua orang “Janganlah kamu merasa paling beriman, nanti malah kesepian masuk surga sendirian” hehehe….

Eh kok malah melenceng sampe bahas iman-iman segala…… hehe…. kembali lagi ke jalur yang benar ya…

Yahhh……. Sejak awal memang opini kita telah digiring kalau banjir itu adalah bencana alam. Kita tidak boleh protes, harus ikhlas menerima sambil mengutuki diri sendiri dan merenungi dosa-dosa yang telah kita perbuat. Seolah-olah banjir itu musibah yang datangnya dari Tuhan. Bukankah Tuhan sendiri telah bilang lewat ayat-ayatnya kalau bencana dan kerusakan itu akibat ulah manusia? Jadi kami berkeyakinan banjir ini bukanlah sebagai suatu bencana alam tapi adalah bencana ekologi akibat perbuatan tangan manusia.

Hmmm….. sepertinya ada yang lempar batu sembunyi tangan nih.. eh, ada yang lempar kulit makan kacangnya. (Hayoo siapa ya….? pemerintah coyy….. eh ada yang nyeletuk.. Bukan saya yang bilang lho ya…hehe.)  Pertanyaanya sekarang; manusia yang mana ya yang berulah? Ya jelas manusia yang rakuslah yang berulah. Manusia- manusia yang tamak. Yang tega menebangi hutan demi memperkaya diri. Yang tega menjual lahan hijau untuk pembangunan. Yang tega menjual negeri untuk diperbudak materi!!

Yaudah kita tidak usah saling menyalahkan ya, kita ini satu bangsa satu tanah air, satu bendera pula dibawah naungan negara Indonesia.. Oh Indonesia-ku sayang, kenapa kau begitu memprihatinkan….

Kalau ada masalah yang menimpa kita ya masalah kita bersama. Daripada saling menyalahkan, berdebat hingga berujung perang. Lebih baik kita akui saja….. ini semua akibat ulah tangan kita semua. Pemerintah dan kita semua harus bertanggung jawab. Supaya kalau banjir datang dimana-mana seperti sekarang ini, bukan hanya sungai-sungai saja yang dinormalisasi, tetapi otak kita pun sebetulnya perlu dinormalkan.

Perlu saudara ketahui, volume air yang ada dibumi itu tetap jumlahnya. Tidak pernah berubah dari waktu-ke waktu. Ya segitu segitu aja. Air yang kita minum pun akan dipipiskan (keluar lagi). Air laut akan memuai menjadi awan, awan berkumpul menjadi hujan. Jadi kesimpulannya disini volume air di bumi, ya dibumi, itu sama dari dulu. Cuma muter-muter aja. Lalu kenapa kok bisa jadi banjir ya? Air meluap-luap sampai ke daratan.

Jawabannya karena laut yang sejatinya tempat muara air berlabuh  telah terjadi pendangkalan. mungkin disebabkan terumbu karang yang telah bertahun-tahun terbentuk. sehingga air yang mempunyai sifat  mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah meluap kan lama-lama, lha wong lautnya cetek. kemana lagi kalau bukan ke daratan. Apalagi keadaan ini diperparah dengan penggundulan hutan, sehingga tidak ada yang mengikat air. Yah… banjir dah.

Sebetulnya pemerintah jaman dulu telah punya desain penanganan banjir yang harus kita acungi jempol. Salah satunya yaitu program pengaturan jumlah anak (KB) turut serta menjadi penge-rem supaya tidak terjadi banjir dan kemacetan diberbagai kota. Hal ini berhubungan dengan semakin banyak jumlah manusia di Indonesia, lahan-lahan yang sejatinya difungsikan sebagai hutan kini telah disulap menjadi bangunan-bangunan megah. Sehingga ruang-ruang untuk drainase, dan pembangunan jalan jadi semakin sempit bahkan tidak ada lagi.

Perda tentang RTH (Ruang Tata Hijau) minimal adalah 30 persen dari luas kota. Tapi kenyataanya sekarang, hampir semua kota di Indonesia RTH-nya dibawah 30 persen. Bahkan kota semarang RTH-nya hanya 7,5 persen (Suara merdeka, 31 januari 2014). Harusnya yang memegang ijin pembangunan perumahan di areal persawahan, di ruang-ruang terbuka kan kewenangan pemerintah daerah terkait. Demi sebiji uang. Mereka menjual tanda tangan. Sehingga berdirilah bangunan di tempat-tempat yang tidak semestinya. Disinilah pemerintah memainkan kartu. Jadi layakkah mereka menyebut banjir sebagai bencana alam, sungguh bencana alam akibat ulah kita sendiri.

SOLUSI

Kalau bicara solusi, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan. Pertama menggercarkan kembali program pembatasan jumlah kelahiran. Supaya 50 tahun lagi pulau jawa tidak tenggelam. Atau kita mulai memikirkan membersihkan laut dari terumbu karang, supaya tidak terjadi pendangkalan. Kita harus mulai pikirkan, membuat mesin yang berbentuk seperti turbin, yang bisa menghancurkan terumbu karang kemudian terumbu-terumbu karang tersebut, diangkat dari dasar laut ke daratan.

Ditumpuk-tumpuk sampai menjadi gunung. Apa fungsi gunung tersebut? Untuk membentengi kota –kota yang lebih rendah dari permukaan air laut seperti semarang. Ya, jelasnya untuk membuat tembok dari air laut. Supaya air laut tidak mengalir ke darat. Kita semua tahu kan kalau air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Nah kita temboki tuh dengan gunung-gunung buatan. Lalu kita buat pompa air di beberapa titik. Kalau ada air di daratan kita pompa tuh ke laut. Tapi ini butuh dana yang besar. Efeknya pasti luar biasa. Itulah yang dilakukan Negara belanda supaya tidak terjadi banjir.

Merusak terumbu karang tentu bukan solusi terbaik. Karena akan membunuh biota laut juga. Tentu semua ingin kelestarian alam terjaga kan? Solusi yang paling mungkin yang bisa kita lakukan untuk saat ini yaitu mengawasi pemerintah supaya taat pada perda. Fungsi kita sebagai kontrol supaya balance. Ayo temen-temen LSM, dan mahasiswa-mahasiswa nasionalis diingetin tuh pemerintah yang kayak gitu, hehe. Biar sawah-sawah, lahan-lahan hijau tidak dijual untuk dijadikan perumahan dan bangunan bangunan untuk hanya untuk meraup rupiah semata tanpa memperhitungkan semua dampak lingkunan yang terjadi.

Saya yakin pemerintah tahu kok, lha wong pemerintah itu orang-orang pinter-pinter semua kok. Mereka tentu telah lebih dahulu tahu akan akibat yang timbul dari segala tindakan-tindakanya. Tapi saya yakin ada orang-orang tertentu yang tamak, rakus, udik, rela mengorbankan anak cucunya demi sebangkai uang.  Ya begitulahhh,……. banjirr… seperti sekarang ini.

Oya,,,,,, mari menanam pohon…. supaya wajah ibu pertiwi berseri-seri MERDEKA !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita...

clotildajamcracker

The wacky stories of a crazy lady.

tekArtist

Warning: Widespread Weirdness

Caveat Automattor

you have been warned

The Typekit Blog

News about Typekit

Gary Takes Photos

Sometimes they're good.

Get 2 See

Follow along as we see the sights, eat the noms, and have the funs!

JJJ

BuddyPress, bbPress, BackPress, WordPress

Nick Momrik

Trying to get a hole-in-one

MacManX.com

Stuff from James Huff

Lens Cap

Casual glimpes into mundane suburbia

Learning by Shipping

products, development, management...

Matt Miklic

Designer, and other useful things.

alternatekev

blog://alternatekev.me

Ryan Boren

non-compliant neurodivergent

Secantik Bunga Peradaban Ilmu

manfaat, , dari dunia sampai akhirat

Sharikha Dalam Cerita…

corat.. coret.. curhat..

%d blogger menyukai ini: