Nominasi Pena-ku Award ; 1 tahun digembleng di kawah candradimuka


Apasih Coass itu?

1300405353_400x400

 

“Coass”,  mungkin nama itu asing ditelinga temen-temen sekalian. Tidak banyak yang tahu siapa sih mereka, mereka itu manusia apa siluman. Atau dimana mereka tinggal dan ngapain aja sih kegiatan mereka? Tidak penting juga kali ya kepoin mereka. Tapi tenang aja, kali ini aku mau membeberkan sedikit kepada kalian tentang sekelompok manusia yang bisa hidup di tiga dimensi waktu sekaligus; pagi, siang, malam hingga ke pagi lagi, duh siapa lagi ya kalo bukan coass. Buat temen-temen yang bener-bener tidak pengen tahu cus jangan teruskan membaca & langsung aja tutup laptopnya, hihi…. Nah, buat yang tidak ingin tahu, tapi masih menyimpan rasa penasaran atau buat yang pengen tahu banget bacalah tulisan ini sampai habis, hehe..🙂 V

Coass itu multi tasking alias bisa menjelma menjadi satpam, kuli, fotografer, tukang ojek, sopir, tukang foto kopi, tukang ketik, dan lain-lain. Itulah sebabnya, aku kagum sama yang namanya Coass. Mereka bisa beralih ke profesi lain setiap saat. Mereka juga bisa tidur dimana aja, di kursi, di samping bed pasien di RS, di lantai, bahkan di kamar mandi.. (kalo ini mah lebay, hehe..) 

Mungkin di benak temen-temen sekalian ada yang bertanya-tanya, judul tulisan ini apa terus bahasnya juga apa? Tenang aja, Tidak ada yang aneh kok, sebab aku adalah bagian daripada mereka para Coass itu, hehe. Disini aku akan sedikit cerita pengalamanku setelah hampir setahun menjadi Coass.

-Pengalaman #1 Pre-Coass

Wisuda bagi seorang sarjana kedokteran, bukan berarti akhir dari pendidikan yang digeluti, namun merupakan awal untuk melangkah ke tangga berikutnya yang lebih berat lagi. Setelah hampir 3,5 tahun kita dijejali berbagai teori seperti anatomi, fisiologi, patofisiologi, farmakologi, dan lainnya ditambah skill dan berbagai bidang ilmu dengan tingkat kerumitan tinggi.

Setelah berbagai syarat telah dipenuhi, Contoh: telah lulus semua blok yang diikuti, Telah selesai mengerjakan karya tulis ilmiah, dan diantara itu semua yang tidak kalah penting adalah administrasi harus dilunasi, hehe.. kalau semua itu bisa selesai tepat waktu sesuai dengan deadline yang ditentukan, maka kita berhak mendapatkan gelar sarjana kedokteran dibelakang nama kita. cieeee……:D

download

Mmmm……tapi, gelar sarjana kedokteran itu tidak ada apa-apanya kok. Itu hanya pertanda bahwa kami telah lulus dari pendidikan pre klinik, kini saatnya kami berselancar ria di lautan klinik dengan gelombang yang lebih garang lagi.

Saat kami di wisuda bersama kurang lebih 700 wisudawan lainnya dari berbagai jurusan,kok tak ada sedikitpun kegirangan terpancar dari wajah kami sih. Kulihat wajah temen-temenku di sekeliling, ku lempar pandang ke sana kemari, clingukan, ke temen-temen laki-laki maupun ke temen-temen perempuan, mereka semua sama saja : murung, pucat pasi, lesu, lunglai, dan keringat dingin sebab seminggu lagi kami harus menjalani ujian osce comprehenship sebagai syarat Coass. Kalau tak ikut OSCE yaudah ikut semester depan, artinya Coass kitapun tertunda satu semester. ya kalau langsung lulus, kalau enggak bisa jadi perjaka tua kan.

OSCE itu kependakan dari Objective Structure Clinical Examination, biar gampang sebut saja ujian skill untuk calon dokter. Di bawah ini aku kasih sedikit gambaran tentang pelaksanaan ujian osce ya. Mau kan?

Ujian OSCE COMPRE biasanya ada 14 station  termasuk satu stasion istirahat. Berarti ada 13 ruangan + 1 ruangan istirahat. Dimana di setiap ruangan duduk seorang penguji diam, yang bertugas mengawasi gerak gerik para calon coass dan memberikan penilaian. tapi kenyataan di lapangan beberapa penguji cerewet sih. Hehe… gagaga becanda. yang lebih serem adalah penguji diam, beliau diam saja, seolah-olah tak menegur kita saat tindakan kita keliru, tapi ketika diumumkan kita tidak lulus. jangan sampai lah ya.

Para penguji itu terdiri dari dokter spesialis yang menempati stasion sesuai dengan bidang spesialistiknya dan beberapa dokter umum yang sudah bersertifikat. Di dalam ruangan yang telah dikondisikan itu ada satu pasien simulasi. Pasien akting itu sudah dibisiki sebelumnya, nanti kalo ditanya dokter muda ini jawab itu, dan bla-bla-bla,

enak kalau pasien simulasinya kooperatif, nah kalo yang ditanya diem aja, seperti saat stasion ilmu jiwa waktu itu? Bikin jengkell….. hehe.

Setiap 1 stasion kami diberi waktu sekitar 8 menit untuk mengerjakan soal dengan sebaik-baiknya. Contoh soalnya misalnya begini nih.

Stasion 1. Seorang laki2 umur 45 tahun datang kepada anda dengan keluhan kepala moprot-moprot, keluar darah berwarna pelangi, habis dilempar pisang tetangganya sekitar 2 jam yang lalu.

Keadaan umum : buruk

Kesadaran : koma

Tanda-tanda vital : tensi, nadi, nafas, suhu (bla-bla-bla)

Nah, kita sering diberi kasus seperti ini terus diberikan pertanyaan, tindakan apa yang harus anda lakukan?

Susahnya ujian osca tuh bagaimana kita tetap tenang supaya bisa menyusun kata2 dengan baik seperti keadaan nyata menghadapi pasien beneran. Supaya tidak pula demam panggung harus banyak-banyak latihan tentunya, insya allah ujian akan lancar.

tidak jarang pula ada penguji usil membuat kita down, hehe… bukan maksud apa2 sih sebenernya, yah biar mental kita sekuat baja. Kita dilatih biar bisa berfikir dengan cepat dan bertindak dengan benar dibawah tekanan.

Saat ujian, kita melakukan tindakan sembari menjelaskan apa yang kita lakukan. Itu butuh banyak latihan dan improvisasi kawan. Tanpa latihan hasilnya pasti nol. Kemudian setiap apa yang kita kerjakan itu ada poinnya. Tidak melakukan poin nol, melakukan salah poin satu. Melakukan benar sesuai cheklist itu dapat  poin dua.

Sebelum Coass, aku sudah 7 kali ujian osca tiap akhir semester sewaktu pre klinik dulu, ditambah ujian osce ke 8 yaitu osce compre, masih saja diri ini grogi. Tapi alhamdulillah, setelah Coass hampir setahun ini, dengan belajar langsung kepada pasien sungguhan, sekarang jauh lebih tenang dan lebih relaks bahkan bisa menikmati ujian. ehm….

-Pengalaman #2 Coass pertama di rumah sakit.

Jaga malam, tak pernah lepas dari keseharian Coass. Dimulai dari jam 2 siang sampai jam 7 pagi esok hari. Jadi nih kalo misalnya aku dapat giliran jaga senin malam, Berati aku berangkat senin pagi-pagi buta sehabis subuh, Follow up pasien bangsal terlebih dahulu, kemudian bisa ikut poli atau dibangsal sembari menunggu konsulen visite.

Disela-sela waktu itu biasanya kita gunakan untuk belajar. Hehe.. ciee belajar…😀

Pulangnya para coass yang tidak jaga, ya tidak tentu juga, bergantung nasib, hehe..  biasanya kami baru pulang setelah konsulen pulang. Kalau konsulen di RS sampai sore atau malam, yaudah kita ngendok disana sampai malam juga, wkwkw.

Sedangkan yang dapat giliran jaga, dimulai dari jam 2 siang hingga jam 7 pagi esok harinya tetep standby di RS, tidur di RS, ketahuan pulang bisa kena kondite. hayooo…… makanya jadi coass jangan neko-neko. (menegur diri sendiri, hiks)

Bagi Coass yang jaga semalem tetap masuk lho ya selasa paginya sampai jam 2 siang. Tak ada libur dalam kamus Coass. Bahkan hari minggu dan hari besar pun kami tetap masuk yang mendapat giliran jaga.  Yah, coass harus tahan banting. Gak boleh meri. Biasanya kami kalau jaga malam ya sekalian bawa alat-alat mandi n pakaian. Syukur-syukur kalo malamnya bisa tidur. Kalau enggak bisa tidur sama sekali yaudah jalanin aja, itulah coass. Hehe..

Nah cerita ini saat aku baru stase pertama di rumah sakit. Sebenarnya ini stase ke dua-ku sih, tapi stase yang pertama ku adalah ilmu kesehatan masyarakat jadi kita lebih banyak kegiatau di desa.

Saat jaga malam pertama, sendirian, ada pasien yang kondisinya memburuk. Aku datang menghampirinya untuk ngecek tensi, dan gula darah. Saat mau masuk ruangan, disana udah dipenuhi oleh keluarga pasien, mereka udah pada bacain Yasin. Saat aku permisi mau tensi, salah seorang keluarga ngomel2 ke aku, gimana ini dokter, bla-bla-bla….. dsj, dst…….!!!

Bayangin, aku yang masih sangat minim pengalaman, coass pertama di rumah sakit, dihadapkan pada situasi seperti itu. Aku kira semua coass pasti pernah mengalaminya. Hatiku seperti ciut. Tapi aku berusaha kuat, dan berusaha menjelaskan kepada mereka tentang kondisi terkini pasien, semampuku. Akhirnya sedkit banyak mereka mulai mengerti, sambil konsultasi kepada dokter jaga, dan alhamdulillah tidak lama kemudian dokter jaga itu datang. Aku membuntutinya di belakang sambil membantu menyiapkan alat2 pemeriksaan jantung dan lainnya.

Beberapa saat setelah pasien mulai stabil, aku keluar cari makan sekitar jam 11 an malam. Begitu aku balik, kondisi pasien tiba-tiba ngedrop. Aku bergegas menuju ke ruangan, pasien mengalami henti jantung dan henti nafas. Dokter jaga UGD memerintahkan aku untuk melakukan Resusitasi jantung paru. Aku langsung naik ke bed pasien, dengan ke dua tumit tangan aku letakkan di dada pasien, dan mulailah aku memompa.

Disekeliling aku lirik keluarga pada nangis semua. Hampir saja aku juga ikutan menitikkan air mata. Inilah pertama kali aku melihat orang mau sakaratul maut. Berhari-hari aku seperti ingat terus, atau orang jawa bilang keton-ketonen. Ada rasa takut, ada rasa merinding, saat aku sendirian. Tapi alhamdulillah setelah berkali-kali menemui kondisi seperti itu, aku lebih bisa mengendalikan diri.

 

-Pengalaman #3: Rujuk Pasien.

Kali ini pengalaman lebih ekstrem lagi.  Masih di rumah sakit yang sama, saat itu aku sudah minggu ke 7, jaga terakhir di IGD. Ada pasien datang bersama keluarganya sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri. Nafasnya megap-megap. Kalau dalam bahasa kedokterannya tipe nafas kusmaul.Pasien tidak sadar, setelah di cek, gula darahnya tinggi. Diagnosis sementara adalah ketoasidosis diabetik. Waktu diperiksa ada bekas luka strum di kaki pasien. Warnanya hitam, dengan jaringan kulit sekitar banyak yang mati. Kami curiga ini pasien habis dibawa ke pengobatan alternatif dengan di strum kakinya.

Namun anehnya keluarga pasien awalnya menyangkal hingga akhirnya mengaku. Begitulah, mulai saat itu aku bisa merasakan betapa dilemanya sebagai seorang dokter. Banyak pasien yang tidak sabar ingin cepat sembuh dari penyakitnya, ingin instan, saat pergi ke dokter diberi nasihat menjaga pola makan, menjaga gaya hidup, akan tetapi pasien tidak mau tau, yang dia ingin hanya sembuh. Padahal dalam dunia medis, ada beberapa benyakit sistemik yang tidak bisa sembuh, akan tetapi kalau terkontrol semuanya akan baik-baik saja. Karena itu mungkin pasien lari ke pengobatan dengan iklan yang menakjubkan, hingga pasien tertarik pergi kesana. Padahal tidak ada dasar ilmiahnya.

Kalau sudah seperti ini siapa yang disalahkan? Hmmm……

Nah, saat pasien hendak dirawat di ruang perawatan instensif , semua ruang ICU sedang penuh. Mau tidak mau pasien ini harus dirujuk dan mendapatkan perawatan segera. Alhamdulillah ada satu RS swasta yang masih ada kamar untuk pasien ini. Pukul 24.30 wib aku ikut merujuk pasien bersama mobil ambulan. Aku duduk dibelakang, dengan terus mengecek nadi pasien. Pasien masih belum sadarkan diri, dengan nafas megap-megap. Lama-kelamaan nafasnya pendek dan lama. Di jalanan aku berdoa terus-terusan. Alhamdulillah pasien masih bernyawa saat kami tiba di rs rujukan. Fiuhhh……..:)

Aku pulang numpang mobil ambulans di belakang sendirian. Angker? ah tak peduli. nyatanya aku tertidur pulas kok sampai kami tiba di RS. hehe

-pengalaman #4 : pengalaman lain

Begitulah sedikit cerita tentang pengalaman kami para coass, para dokter muda yang sedang menjalani pendidikan kepaniteraan klinik. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa aku ceritakan semuanya.

 

15 Juli : satu tahun Coass

Setelah satu tahun coass, aku ingin memberikan award kepada para konsulen dengan berbagai tipe, dari yang halus sampai yang killer. Hehehe……Betapapun meraka adalah guru kami, mendidik kami supaya bermental baja. lewat tulisan ini aku ingin mengucapkan banyak terima kasih telah membimbing kami dengan sepenuh hati. Inilah yang dinamakan romantika perjuangan. Banyak kenangan nano-nano bersama beliau. Begitu halnya pun bersama temen-temen seperjuangan, yaitu para Coass lainnya terutama yang sekloter denganku.

 

Untuk para konsulen

Nominasi kategori dokter paling dewa

1. dr. Pujo Hendriyanto, SpPD

2. dr. Rochmat Widiatma, Sp.Rad

3. dr. Bagus herlambang, Sp BTKV

4. dr. Wijiono, SpOT

 

Nominasi kategori dokter paling sabar

1. dr. Pujo Hendriyanto, SpPD

2. dr. Rochmat Widiatma, Sp.Rad

3. dr. Wijono, SpOT

 

Nominasi dokter bidadari

1. dr. Diana novitasari, SpPD

2. dr. Sri Mastuti, SpM

3. dr. Ifrinda, SpOG

 

Nominasi dokter paling tegas

1. dr. Cahyono, SpOG

2. dr. Iwan, SpOG

3. dr. Tris sudyartono, SpTHT

 

Nominasi dokter paling unik

1. dr. Irawan, SpOG

2. dr. Tris sudyartono, SpTHT

3. dr. syaifun Niam, SpPD

 

Nominasi dokter paling nasionalis

1. dr. Trining, SpM

2. dr. Wijiono, SpOT

3. dr. Tris Sudyartono, SpTHT

 

Terima kasih guru-guruku semua, para konsulen atas pelajaran berharga yang telah Engkau berikan kepada kami. We love you……

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita...

clotildajamcracker

The wacky stories of a crazy lady.

tekArtist

Warning: Widespread Weirdness

Caveat Automattor

you have been warned

The Typekit Blog

News about Typekit

Gary Takes Photos

Sometimes they're good.

Get 2 See

Follow along as we see the sights, eat the noms, and have the funs!

JJJ

BuddyPress, bbPress, BackPress, WordPress

Nick Momrik

Trying to get a hole-in-one

MacManX.com

Stuff from James Huff

Lens Cap

Casual glimpes into mundane suburbia

Learning by Shipping

products, development, management...

Matt Miklic

Designer, and other useful things.

alternatekev

blog://alternatekev.me

Ryan Boren

non-compliant neurodivergent

Secantik Bunga Peradaban Ilmu

manfaat, , dari dunia sampai akhirat

Sharikha Dalam Cerita…

corat.. coret.. curhat..

%d blogger menyukai ini: